Mengakomodir Jadwal Padat Pesta Adat, Dewan Minta Penyelenggaraan Diatur Bergilir
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Memasuki musim pesta adat tahunan sejumlah kampung mulai di Kabupaten Berau mulai menggelar perayaan adat khas masing-masing dikampungnya, termasuk Kampung Merabu yang baru-baru ini melangsungkan acaranya.
Namun, padatnya
jadwal kegiatan yang digelar secara bersamaan memunculkan tantangan tersendiri,
terutama terkait kehadiran dan dukungan dari Pemerintah Daerah serta DPRD.
Anggota Komisi II
DPRD Berau, Sutami, menyampaikan keprihatinannya terhadap tumpang tindihnya
agenda pesta adat. Menurutnya, hal ini berimbas pada terbatasnya partisipasi
dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan legislatif.
“Sangat disayangkan
banyak acara adat digelar serentak. Dampaknya, dukungan dari instansi
pemerintah maupun DPRD menjadi tidak maksimal. Idealnya, pelaksanaan pesta adat
bisa diatur secara bergilir,” kata Sutami belum lama ini di Kantor Dewan Jalan Gatot
Subroto Kelurahan Sei Bedungun.
Ia mengusulkan agar
penjadwalan pesta adat dilakukan lebih terstruktur, misalnya dengan membagi
pelaksanaan antar kampung di bulan-bulan berbeda. Dengan begitu, perhatian dan
dukungan terhadap masing-masing kegiatan adat dapat lebih optimal.
“Bisa saja bulan ini
Kampung A dan B, bulan depan kampung lainnya. Jadi tidak saling tumpang
tindih,” ujarnya.
Sutami menegaskan
bahwa pesta adat merupakan bagian dari identitas budaya yang harus
dilestarikan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, potensi pemborosan
anggaran dan hilangnya nilai sakral dapat terjadi.
“Setiap acara adat
membutuhkan biaya. Kalau waktunya bersamaan, bisa saling sikut dan anggaran
tidak maksimal. Kita ini negeri proposal, jangan sampai semuanya masuk
mendadak. DPRD pasti mendukung, asal terjadwal dengan baik,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan
bahwa DPRD selama ini selalu berusaha terlibat dalam setiap kegiatan adat, baik
dengan menyumbangkan gagasan, waktu, maupun materi. Namun, keterlibatan
tersebut sangat bergantung pada undangan resmi yang disampaikan lebih awal.
“Kalau kami diberi
tahu dan diundang secara resmi, pasti kami dukung. Banyak anggota dewan yang
terlibat langsung dan memberi kontribusi. Ini bentuk penghormatan kami terhadap
budaya,” tambah Sutami.
Lebih lanjut, ia menilai pesta adat bisa menjadi sarana efektif untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, khususnya dalam hal kebutuhan infrastruktur.
“Dengan hadir di
kampung saat pesta adat, kami bisa lihat langsung kondisi jalan, jembatan, dan
kebutuhan warga lainnya. Ini menjadi komunikasi dua arah yang positif,”
pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)